Thursday, October 18, 2012

Cerita Yang Tercecer Dari Pengalaman Mengikuti Misi Perdamaian PBB di Darfur Sudan (1)




Berada di daerah misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah suatu kehidupan yang sangat menantang, menegangkan dan juga mengasikkan. Sebagai seorang personil polisi kita harus selalu siap ditugaskan dimana saja dan kapan saja, meskipun harus meninggalkan keluarga tercinta. Di dalam maupun ke luar negeri, apabila sprin atau surat perintah tugas sudah ditanda tangani pimpinan, suka maupun tidak tugas itu harus dilaksanakan. 

Semua daerah misi perdamaian PBB adalah daerah konflik baik itu sedang atau pasca perang, antar negara atau perang saudara yang berakibat pada krisis kemanusian, kelaparan dan pengungsian. Orang berkulit hitam legam kurus kering tinggal tulang, bau, lalat dan bahkan mayat adalah pemandangan hampir setiap hari disaksikan didaerah misi. Wajah wajah memelas, anak-anak kotor yang sepertinya tidak pernah tersentuh air semenjak mereka lahir membuat hati terhenyut. Cerita-cerita mereka tentang kekejaman perang, kekejaman para pembatai dan pemberontak bahkan pasukan pemerintah yang tidak punya sedikitpun rasa kemanusian akan mewarnai hari hari di daerah misi. Cerita menyayat hati tentang hilangnya atau bahkan terbunuhnya orang tua, anak, saudara, keluarga maupun kerabat akan selalu kita dengar.

Bertemu serta bergaul dengan personil dari berbagai negara dan benua adalah cerita lain dari tugas di suatu misi perdamaian. Menghadapi berbagai tempramen manusia yang berbeda yang dibawa orang dari negara mereka adalah salah satu tantangan lain yang tidak ringan. Tingkah laku lucu dan konyol menurut kebiasaan kita yang dilakukan oleh orang dari negara lain akan setiap hari kita temui. Cross culture understanding atau pemahaman tentang budaya dan kebisaan orang lain harus benar benar dipahami oleh setiap personil jika tidak, culture shock yang tidak jarang berujung pada konflik antar sesama akan terjadi. Makanan dan cuaca juga akan menjadi persoalan bagi kita, jika kita tidak siap akan menghadapi perubahannya.

Proses Persiapan

Tes dilakukan cukup berat dari tingkat mabes Polri sampai tingkat wawancara melalu telpon langsung dari New York. Jeda dari tes awal menuju pemanggilanpun memakan waktu yang tidak sedikit. Hampir setahun waktu yang diperlukan sampai keberangkatan.

Di Jakarta setelah ada TR pemanggilan dilakukan tes ulang lagi berupa kesehatan dan psikologi untuk meyakinkan bahwa anggota yang dikirim benar benar sehat secara fisik dan mental.

Mendapatkan suntikan vaksin atau imunisasi penyakitpun dilakukan seperti Malaria, Meningitis, Yellow fever dan Hapatitis untuk mencegah agar kami terhindar dari penyakit yang paling berbahaya tersebut di tempat tugas.
Mendapat pengarahan dari pimpinan Polri dan pembagian perlengkapan dilakuakan hampir 2 minggu dan pada saat benar benar lengkap dan siap baru bisa diberangkatkan.


Check in Process

25 Maret 2008, sesampainya kami di Bandara International Sudan di Khartoum dijemput oleh rotation officer dan diarahakan untuk menginap sementara di hotel yang direkomendasi UN selama masa check in.

Hari sudah sore sekitar pukul 5 tetapi matahari terasa panas menyengat. 45’c suhu sore itu, terlihat jalas dari papan penunjuk suhu dijalan dari bandara menuju hotel.

Keesokan harinya dilaksanakan tes Bahasa Inggris untuk mendapatkan sertifikat guna memperoleh UN ID Card. Dilanjutkan dengan proses administrasi lainnya seperti pendaftaran di Bank of Khartoum, check in radio telekomunikasi dan mendapatkan security briefing awal tentang situasi di Sudan Khususnya Darfur. 

Induction Training
Selama hampir seminggu melaksanakan proses check in di Khartoum kami berangkat bertiga ke UNAMID HQ di Elfashir. Perjalanan ditempuh dengan pesawat UN selama 1,5 jam.

Melakukan induction Training atau latihan awal sebelum penempatan merupakan kegiatan utama di Elfasir. Pengetahuan tentang latar belakang misi, budaya dan adat istiadat di daerah ini, alam di Darfur, bahaya, peraturan dan larangan dan sebagainya terangkum semua di dalam training tersebut.

Sat tes bahasa Inggris dan tes mengemudi dilaksanakan juga disela sela training untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi standar UN. Sehabis training dilaksanakan wawancara guna menentukan tempat dimana akan ditempatkan dan sebagai apa di dalam misi ini. Dari hasil wawancara ternyata kami bertiga ditempatkan di daerah yang sama yaitu Kalma CPC, Sector South Nyala.    
Tanggal 15 April 2008 kami mendarat di bandara Nyala, ibu kota Darfur bagian selatan.

Tugas Pokok

Tugas yang dibebankan pada setiap police adviser adalah
pertama, secara aktif memberikan pelayanan pengaman dan melakukan patroli,
kedua menjadi penghubung dengan UNMIS (United Mission in Sudan),
ketiga memonitor jika terjadi pelanggaran terhadap DPA (Darfur Peace Agreement) dan memastikan bahwa semua perjanjian perdamaian yang dilakukan bisa dilaksanakan,
keempat mendukung pembangunan kapasitas dan memonitor pelaksanaan penegakan hukum,
kelima membantu pencapaian program pelucutan senjata, dan
keemam UNAMID juga diberikan otoritas untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu guna melindungi para personil UN, fasilitas dan perlengkapan serta meyakinkan keamanan dan kebebasan bergerak dari para personil UN dan juga para pekerja kemanusian lainnya.

Disamping itu juga UNAMID ditugaskan untuk mendukung secara dini dan efektif pelaksanaan perjanjian perdamaian Darfur serta melindungi para penduduk sipil.
Tugas pokok ini berdasarkan mandat dari misi UNAMID yang tertuang dalam resolusi Dewan Keamanan PBB no 1769 tanggal 31 Juli 2007

Penempatan

Nyala adalah kota dimana kami ditugaskan dalam misi UNAMID ini. Nyala adalah ibu kota negara bagian Darfur Selatan, dimana daerah Darfur dibagi menjadi tiga negara bagian yaitu, Darfur Barat yang berpusat di El Geneina, Darfur Selatan yang berpusat di Nyala dan Darfur Utara yang berpusat di El Fasher.

Jika dilihat dari segi geografis fisik daerahnya, disetiap negara bagian di Darfur memiliki daerah yang hampir sama yaitu hamparan padang pasir yang luas dengan bukit batu dibeberapa sisi. Jika dibandingkan dengan kedua daerah lainnya Nyala adalah daerah yang paling ‘hijau’. Meskipun pada musim kering yang berkepanjangan, dibeberapa titik di Nyala masih terlihat ada dedaunan yang masih hijau karena ada beberapa titik sumber air disekitar daerah itu.


Dari segi keamanan, Nyala juga tergolong daerah yang paling aman jika dibandingkan dengan El-Fashir dan El Geneina.

Kami ditempatkan di Kalma CPC/Community Policing Centre. Kalma CPC bertanggung jawab atas sebuah camp pengungsian yang bernama Kalma IDP/Internally Displaced Person. Kamp ini merupakan kamp pengungsian yang terbesar di dunia. Saat ini ada sekitar 95.000 pengungsi yang hidup di kamp tersebut selama hampir 5 tahun. Mereka hidup dari bantuan organisasi kemanusian internasional dan NGO-NGO yang begerak dibidang kemanuasian.
 Truk-truk besar bertuliskan WFP/World Food Program setiap sebulan sekali datang ke camp pengungsian untuk membagikan bahan makanan. Bahan makanan tersebut berupa tepung, minyak goreng, minyak tanah dan makanan pokok mereka yang berupa sorgun. (sejenis jagung) dan millet.  

Pelaksanaan Tugas

Patroli dan community policing atau yang disebut confidence building patrol untuk membangun community confidence masyarakat adalah tugas yang kami laksanakan setiap hari. Kami jalankan dengan patroli bermobil, jalan kaki, sambang, mengumpulkan para tetua masyarakat, menerima masukan dan menyalurkannya ke instansi yang terkait.

Menjadi jembatan penghubung antara para pengungsi dengan Pemerintah Sudan adalah tugas terberat yang diberikan. Para pengungsi di Kalma dimana kami ditempatkan tidak mau atau setidaknya belum mau mengakui dan menghormati hukum pemerintah Sudan. Mereka tidak menyukai pemerintahan yang sekarang berkuasa. Mereka menganggap pemerintahlah yang menyebabkan mereka menderita seperti ini. Pemerintahlah yang menyerang dan membakar perkampungan mereka bersama sama dengan kelompok Janjaweed sehingga mereka kehilangan sanak keluarga dan harus meninggalkan semua harta yang mereka punya.

Demikian juga sebaliknya pemerintah Sudan menganggap pengungsi yang ada di kamp pengungsian Kalma adalah para pemberontak yang melawan pemerintah. Mereka menganggap pemberontak yang berkedok sebagai pengungsi bersembunyi di kamp ini dan suatu saat akan membahayakan pemerintah.






No comments:

Post a Comment