Thursday, October 11, 2012

Tekhnologi Terapan Kepolisian


Selamat pagi Indonesia

Seberapa pentingkah tekhnologi terapan bagi Kepolisian?

Sejak berkuasanya restorasi Meiji (pada tahun 1868-1912), Jepang memasuki  jaman keemasan terutama di bidang teknologi. dimulai dari teknologi otomotif, manufacture, informasi, telekomukasi termasuk teknologi terapan untuk kepolisian. Yang dimaksud teknologi kepolisian yaitu alat yang diciptakan untuk membantu pelaksanaan tugas kepolisian dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat secara efektif dan efisien. Walaupun mungkin teknologi sederhana yang digunakan, tetapi sangat bermanfaat untuk polisi dalam melaksanakan tugasnya. Namun di sisi lain untuk penanganan masalah yang cukup luas dan kompleks, juga tidak mengabaikan penggunaan teknologi moderen seperti  penggunaan teknologi untuk labotarorium forensik, alat untuk mendeteksi keberadaan orang yang masih hidup ketika tertimpa bangunan pada saat terjadi gempa (live detection camera), alat pemantau situasi lalu lintas Traffic Control Center (TCC) dan CCC yang dikenal dengan 110.

Teknologi sederhana, biasa digunakan oleh   3 serangkai”  yang berperan sebagai Superman yaitu Koban, Chuzaishodan Patoka (patroli mobil). Apabila dicermati, Koban dan Chuzaisho merupakan pusat pelaksana kegiatan kepolisian paling depan dalam sistem kepolisian Jepang, yang jumlahnya mencapai 14.000 unit di 47 prefektur. Kelengkapan yang dimiliki seragam dan merupakan standar pokok (kelengkapan perorangan dan kelengkapan kantor). Untuk kelengkapan perorangan berupa : meteran, radio komunikasi 110, gas air mata, revolver, HT, tongkat polisi, pulpen dan buku catatan yang pada saat lepas dinas diserah terimakan kepada petugas yang mengganti. Untuk kelengkapan kantor  yaitu : Sepeda, lampu senter, komputer, CCTV, alat untuk parkir illegal, rompi anti peluru, rompi anti senjata tajam, alat berupa besi baja ‘seperti huruf Y’ (dinamakan : Satsumata), TKP Kit (berisi kit untuk sidik jari tangan dan kaki/sepatu), alat untuk mengetahui kadar alkohol yang diminum pengendara mobil, bendera stop-an dan tameng polisi.

Sepeda yang dimiliki Koban sangat besar manfaatnya untuk melaksanakan tugas patroli dan  kunjungan rutin ke rumah-rumah penduduk (Junkai renraku), tilang parkir illegal, razia sepeda yang dicurigai dan mendatangi TKP. Untuk melaksanakan patroli malam, setiap anggota wajib menggunakan tameng anti senjata tajam atau anti peluru yang digunakan di dalam jaket. Pemanfaatan tameng anti senjata tajam, sangat mungkin karena tidak sedikit  anggota polisi meninggal karena ditusuk senjata tajam oleh penjahat. Demikian juga dengan penggunaan Satsumata yang panjangnya kurang lebih 2 meter (dan dapat di lipat  untuk menghalau/menghadapi orang yang sedang mabok atau sedang menggunakan senjata tajam.

Mobil Patoka dilengkapi dengan alat yang hampir sama dengan yang dimiliki Koban yaitu rompi anti peluru, rompi anti senjata tajam, alat berupa besi ‘seperti huruf Y’ (Satsumata), TKP Kit (berisi kit sidik jari tangan dan kaki), alat untuk mengetahui kadar alkohol yang diminum seseorang, bendera stop-an dan tameng.  Posisi patoka selalu diketahui oleh petugas CCC yang ada di POLRES atau di POLDA melalui GPOLRES. Selain melaksanakan tugas paroli, Patoka juga melaksanakan tugas yang diperintahkan dari CCC yang ada di POLRES maupun POLDA.

Teknologi modern digunakan oleh tim identifikasi investigasi kriminal, dan investigasi lalu lintas. Identifikasi kriminal memiliki alat untuk sidik jari dengan 12 karakter dan sistem identifikasi sidik jari otomatis (AFIS/automated fingerprint identification system), alat untuk menganalisis DNA dengan menggunakan Genetic analyser yang memungkinkan memisahkan fragmen DNA dengan kecepatan dan resolusi tinggi. Khusus untuk pengendalian lalu lintas, di setiap POLRES dilengkapi dengan pusat pengendalian arus lalu lintas dengan menggunakan alat CCTV dengan sistem VICS(vehicle information and communication system) di hampir setiap persimpangan jalan raya.  Dari layar monitor dapat diketahui apabila terjadi kemacetan di suatu persimpangan. Di Board juga secara otomatis terdata 10 ranking kemacetan pada saat itu. Dan pada saat terjadi kemacetan, polisi bisa mengatur pengendalian lampu lalu lintas dari ruang pengendalian lalu lintas.

Untuk investigasi/penyidikan kecelakaan lalu lintas, nampaknya cukup unik, karena pada saat petugas di TKP, dikumpulkan ribuan kepingan kecil dari mobil yang tabrakan. Kepingan dapat berupa : cat, kaca, pakaian korban yang menempel di mobil dan lain-lain yang selanjutnya dianev di kantor dengan teknologi moderen. Untuk CCC atau 110(communications command center), menggunakan teknologi moderen dengan biaya yang sangat mahal untuk melayani laporan masyarakat (yang dalam satu setahun mencapai 9,5 juta laporan atau setiap 3,3 detik ada 1 (satu) kali telpon masuk dari masyarakat). Teknologi moderen juga termasuk penggunaan hellicopter sebanyak 80 unit, 200 unit kapal motor oleh kepolisian perairan, computer system pembaca plat nomor otomatis di jalan, penggunakan memori otomatis kecelakaan lalu lintas (traffic accidents auto memory system).

Dari beberapa kegiatan kepolisian dengan menggunakan teknologi, dapat disimpulkan dalam 4 hal :
1)                 Koban, Chuzaiso dan Patoka sebagai pelaksana tugas kepolisian terdepan, dilengkapi dengan teknologi kepolisian walaupun sederhana tetapi sangat efektif dan efisien.
2)                 Penggunaan teknologi moderen, dimanfaatkan untuk kegiatan :
a)                 penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh tim investigasi kriminal dan lalu lintas untuk  membuat terangnya suatu perkara.
b)                 memonitor terjadinya kemacetan lalu lintas, telah di pasang CCTV di ribuan persimpangan jalan dan dimonitor di ruang pengendalian lalu lintas menggunakan sistem VICS.
c)                  Mengantisipasi kejahatan, telah dipasang CCTV dan instalasi sistem pemanggilan darurat di jalan untuk laporan langsung ke 110.

Namun demikian, yang merupakan key activity pelaksanaan tugas polisi di Jepang yaitu respon yang sangat cepatdari setiap petugas terhadap semua laporan masyarakat (masalah pidana atau bukan pidana). Semua teknologi yang tersedia tidak dapat bermanfaat secara optimal apabila tidak ada motivasi yang kuat dari setiap petugas untuk memecahkan masalah secara optimal. Hal tersebut memerlukan tingkat kesadaran yang cukup tinggi (mau dan mampu) untuk mengoperasionalkan semua peralatan dengan teknologi tepat guna, karena teknologi hanya merupakan alat bantu pelaksanaan tugas kepolisian.

Ditulis dari hasil pengalaman melaksanakan pelatihan di Jepang pada tahun 2006 yang lalu.




No comments:

Post a Comment