Thursday, November 15, 2012

PRASANGKA DAN DISKRIMINASI


Prasangka dan diskriminasi adalah dua hal yang ada relevansinya. Kedua tindakan tersebut dapat merugikan pertumbuhan perkembangan dan bahkan integrasi masyarakat. Dari peristiwa kecil yang menyangkut dua orang dapat meluas dan menjalar, melibatkan sepuluh orang, golongan atau wilayah disertai tindakan-tindakan kekerasan dan destruktif yang merugikan.

Prasangka mempunyai dasar pribadi, dimana setiap orang memilikinya, sejak masih kecil unsur sikap bermusuhan sudah nampak. Melalui proses belajar dan semakin besarnya manusia, membuat sikap cenderung untuk membeda-bedakan. Perbedaan yang secara sosial dilaksanakan antar lembaga atau kelompok dapat menimbulkan prasangka. Kerugiannya prasangka melalui hubungan pribadi akan menjalar, bahkan melembaga (turun-menurun) sehingga tidak heran kalau prasangka ada pada mereka yang berfikirnya sederhana hingga pada masyarakat yang tergolong cendekiawan, sarjana, pemimpin atau negarawan. Jadi prasangka pada dasarnya pribadi dan dimiliki bersama. Oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian dengan seksama, mengunggat bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa atau masyarakat multi-etnik.

Suatu hal yang saling berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminatif terhadap ras yang diprasangkanya. Tetapi dapat pula yang bertindak diskriminatif  tanpa didasari prasangka, dan sebaliknya seorang yang berprasangka dapat saja bertindak tidak diskriminatif. Perbedaan terpokok antara prasangka dan diskriminatif adalah bahwa prasangka menunjukkan pada aspek sikap, sedangkan diskriminatif pada tindakan. Menurut Morgan (1966) sikap adalah kecenderungan untuk berespon baik secara positif maupun negatif terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui bila ia sudah bertindak atau bertingkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan kecenderungan yang tidak tampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan yang realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh diri individu masing-masing.

Prasangka ini sebagian besar sifatnya apriori, mendahului pengalaman sendiri (tidak berdasarkan pengalaman sendiri), karena merupakan hasil peniruan atau pengoperan langsung pola orang lain, atau dioper dari milieu dimana orang menetap.

Gradasi prasangka menunjukkan adanya distansi sosial  antara ingroup dan outgroup. Dengan kata lain, tingkat prasangka itu menumbuhkan jarak sosial tertentu diantara anggota kelompok sendiri dengan anggota-anggota kelompok luar, dengan kata lain adanya diskriminatif antar kelompok.

Prasangka bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi  yang terlampau cepat, sifat berat sebelah, dan dibarengi proses simplifikasi (terlalu menyederhanakan) terhadap suatu realita.

Dalam kehidupan sehari-hari, prasangka ini banyak dimuati  emosi-emosi atau unsur efektif yang kuat. Jika prasangka itu disertai agresivitas dan rasa permusuhan, semuanya tidak bisa disalurkan secara wajar, biasanya orang yang bersangkutan lalu mencari obyek “Kambing Hitam”, yaitu suatu obyek untuk melampiaskan segenap frustasi, dan rasa-rasa negatif. Kambing Hitam itu biasanya berwujud individu atau kelompok sosial yang lemah, golongan minoritas, anggota kelompok luar, ras lain atau suatu bangsa tertentu. Dengan kata lain mencoba untuk mendiskriminasikan pihak-pihak lain,  yang belum tentu pihak-pihak tersebut bersalah. Pada lazimnya prasangka sedemikian dibarengi dengan rasionalisasi, yaitu membuat rasional segala prasangka dan pikiran yang negatif, diproyeksikan kepada si “kambing Hitam”. Pada akhirnya dibarengi justivikasi diri, yaitu pembenaran diri terhadap semua tingkah laku sendiri.

Prasangka sebagai suatu sikap tidaklah merupakan wawasan dasar dari individu melainkan merupakan hasil proses interaksi antar individu atau golongan. Atau lebih tepat kalau prasangka itu merupakan hasil proses belajar dan pengenalan individu dalam perkembangannya. Pada prinsipnya seseorang akan bersikap tertentu terhadap orang lain atau terhadap suatu kelompok apabila ia telah memiliki pengetahuan itu tidak dapat kita pastikan apakah bersifat positif atau negetif. Pengetahuan itu akan membuat seseorang atau satu kelompok  berpersepsi, berfikir dan merasa terhadap obyek tertentu. Dari sinilah lahirnya suatu sikap dalam bentuk tingkah laku yang cenderung negatif.

Dengan demikian prasangka dapat dikatakan seperti yang dikemukakan oleh Newcomb sebagai sikap yang tak baik dan sebagai suatu predisposisi untuk berfikir, merasa dan bertindak dengan cara yang menentang atau menjauhi dan bukan menyokong atau mendekati orang-orang lain, terutama sebagai anggota kelompok. Pengertian Newcomb tersebut timbul dari gejala-gejala yang terjadi dalam masyarakat. Pengalaman seseorang yang bersifat sepintas, yang bersifat performance semata akan cepat sekali nemimbulkan sikap negatif terhadap satu kelompok atau terhadap seseorang. Melihat penampilan orang-orang Negro maka sering menimbulkan kesan keras, sadis tidak bermoral dan sejenisnya. Pandangan yang demikian akan menimbulkan kesan segan bergaul dengan mereka dan selalu memandangnya dengan sikap negatif


Perbedaan Prasangka dan diskriminasi
Tidak sedikit orang-orang yang mudah berprasangka, namun banyak juga orang-orang yang lebih sukar untuk berprasangka. Mengapa terjadi perbedaan cukup menyolok? Tampaknya kepribadian dan intelegensia, juga faktor lingkungan cukup berkaitan dengan munculnya prasangka. Namun demikian belum jelas benar ciri-ciri kepribadian mana yang membuat seseorang mudah berprasangka. Sementara pendapat menyebutkan bahwa orang yang berintelegensi tinggi, lebih sukar untuk bersifat berprasangka. Mengapa? Karena orang-orang ini bersifat dan bersikap kritis. Tetapi fakta-fakta dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa mereka yang tergolong dalam jajaran kaum Cendikiawan, bahkan juga para pemimpin dan negarawan juga bisa berprasangka. Bukankah lahirnya senjata-senjata antar benua (Inter Continental Balistic Missile ICBM) adalah suatu prasangka yang  berlebihan dari para pemimpin, negarawan negara-negara adikuasa (super power). Bukankah pemasangan rudal-rudal jarak pendek milik Amerika Serikat di daratan eropa barat adalah suatu manivestasi dari prasangka amerika serikat terhadap rivalnya yaitu Uni Soviet?

Kondisi lingkungan/ wilayah yang tidak mapan pun cukup beralasan untuk dapat menimbulkan prasangka suatu individu atau kelompok sosial tertentu. Dalam kondisi persaingan untuk mencapai akumulasi material tertentu, atau untuk meraih status sosial bagi suatu individu atau kelompok sosial tertentu, pada suatu lingkungan/wilayah dimana norma-norma dan tata hukum dalam kondisi goyah, dapat merangsang munculnya prasangka dan diskriminasi. Antara prasangka dan diskriminasi dapat dibedakan dengan jelas. Prasangka bersumber dari suatu sikap. Diskriminasi menunjuk kepada suatu tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap berprasangka dan diskriminasi seolah-olah menyatu tidak dapat dipisahkan. Seorang yang mempunyai prasangka rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkainya. Walaupun begitu, biasa saja seseorang bertindak diskriminatif tanpa berlatar belakang pada suatu prasangka. Demikian juga sebaliknya, seseorang yang berprasangka dapat saja berprilaku tidak diskriminatif. Di Indonesia kelompok keturunan Cina sebagai kelompok minoritas sering terjadi sasaran prasangka rasial, walaupun secara yuridis telah menjadi warga Negara Indonesia dan dalam UUD 1945 Bab X pasal 27 dinyatakan bahwa semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.

Sikap berprasangka jelas tidak adil, sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau apa yang didengar, sikap berprasangka  itu muncul dari pikiran sepintas kemudian disimpulkan dan dibuat pukul rata sebagai sifat seluruh anggota kelompok sosial tertentu. Apabila muncul prasangka dan deskriminatif terhadap kelompok sosial lain akan menimbulkan pertentangan sosial yang lebih luas. Contoh peristiwa yang menyangkut beberapa orang meluas melibatkan sejumlah orang.

Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi
Berlatar belakang sejarah:
Orang-orang kulit putih di Amerika serikat bersikap negatif terhadap orang-orang Negro, berlatar belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang kulit putih sebagai tuan dan orang Negro berstatus sebagai budak

Dilatar belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional.
Prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain,/terhadap kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh pimpinan perusahaan terhadap karyawannya

Bersumber dari faktor kepribadian
Keadaan frustasi dari beberapa orang/kelompok sosial tertentu merupakan kondisi yang cukup untuk menimbulkan tingkah laku agresif. Para ahli beranggapan bahwa prasangka lebih dominan disebabkan tife kepribadian orang-orang tertentu. Tipe autoritarian personality  adalah ciri kepribadian seseorang yang penuh prasangka  dengan ciri bersifat konservatif dan bersifat tertutup.

Berlatar belakang dari perbedaan keyakinan.
Kepercayaan dan agama bisa ditambah lagi dengan perbedaan pandangan politik ekonomi dan ideologi. Prasangka yang berakar dari hal-hal diatas dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal. Beberapa diantaranya : Konflik Irlandia Utara-Irlandia selatan ; Yunani-Turki di Cyprus dan perang Irak-Iran. Perang Vietnam pendudukan di afganistan oleh unisoviet konflik dilingkungan Amerika Tengah bermotif ideologi politik.


Usaha mengurangi/menghilangkan prasangka dan driskriminasi
1)     Perbaikan kondisi Sosial Ekonomi
Pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan warga negara Indonesia masih tergolong dibawah garis kemiskinan, akan mengurangi kesenjangan sosial antara si kaya dan simiskin. Melalui pelaksanaan program pembangunan didukung oleh lembaga ekonomi pedesaan seperti BUUD dan KUD. Juga melalui kredit Candakulak (KCK) kredit modal kerja permanen (KMKP) dan sektor pertanian dengan program : Intensifikasi khusus, perkebunan inti rakyat, proyek tebu rakyat
2)     Perluasan kesempatan belajar
Untuk mencapai jenjang pendidikan tertentu dalam perguruan tinggi memang mahal, untuk mencapai pendidikan tersebut harus memiliki otak juga modal. Jika dapat mencapaiu prestasi tinggi dan dapat dipertahankan beasiswa aneka ragam dapat diraih dan kantong pun tidak kering kerontang.
Dengan memberi kesempatan mencapai tingkat pendidikan dasar-perguruan tinggi bagi warga Indonesia tanpa kecuali prasangka dan perasaan tidak adil pada sektor pendidikan cepat atau lambat akan hilang.
3)     Sikap Terbuka dan Sikap Lapang
Berbagai ideologi secara historis pernah mendapt tempat dan berkiprah di Republik ini, bukan mustahil akan memanfaatkan kemajemukan kulktur, satatus dan kelas masyarakat bukan mustahil kalau mereka memanfaatkan situasi berprasangka, resah dan kemelut. Sesungguhnya idealisme paham kebangsaan yang mencanangkan perssatuan dan kemerdekaan, telah menumbuhkan sikap kesepakatan solidaritas dan loyalitas yang tinggi. Dengan berbagai sikap unggulk itu diharapkan akan berkelanjutkan dengan sikap salin g percaya, saling menghargai, menghormati dan menjauhkan diri dari sikap berprasangka.

No comments:

Post a Comment