Tuesday, March 19, 2013

Marah, Kasihan, Kecewa, Mengeluh

Kata pakar; kecewa itu karena ada deviasi antara harapan dan capaian.. Saya sudah menghapus beberapa kata dalam hidup saya, antara lain;

1. Marah; 
Bagi saya marah itu temannya setan,. Apapun masalahnya saya akan menghindari kemarahan.. Kalau dalam teori komunikasi,; marah itu adalah salah satu lambang komunikasi yang digunakan oleh pengirim pesan kepada penerima pesan. Namun ada satu hal yang dilupakan oleh pengirim pesan saat itu; apa dampak yang diharapkan dengan marahnya? Biar dibilang hebat? Biar dibilang jagoan? Biar diperhatikan? Biar anggota baik?? Dalam banyak hal ternyata dampak marah tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Misalnya anggota tidak benar kerjanya, kalau kita marahi terus, apa mereka akan jadi baik?? Makin tegang mereka dan makin ngawur kerjanya.. Kalau mereka kerja tidak baik, berarti butuh dilatih, butuh dibina, butuh diarahkan dan butuh perbaikan,, tidak butuh dimarahi..
Menurut saya, marah adalah tekhnik komunikasi paling primitif. 


Kata kasihan jangan pernah terucap dari diri kita. Misalnya lihat pengemis; kemudian berucap "kasihan",, drpd berucap kasihan, lebih baik kita datangi dia dan beri uang. Lihat yunior susah cuma bisa bilang "kasihan" tanpa ada upaya bantuan apapun. Lihat orang kena masalah cuma bilang "kasihan",, mereka tidak butuh dikasihani, mereka butuh tindakan nyata dari kita. Kalau kita belum bisa bantu (empati),, simpan simpati kita untuk tidak menambah kesusahan mereka..

3. Kecewa


Buat apa kecewa? Kecewa tidak akan merubah nasib kita. Kalau ada yang tidak sesuai harapan, ya kita berusaha dan berdoa lagi. Untuk mengurangi kekecewaan, salah satu tekniknya adalah "mengurangi tingkat harapan" kita.  Jangan berharap yang terlalu tinggi daripada kalau tidak tercapai malah kecewa. Kalau dulu cita-cita kita pengen jadi Presiden, atau Gubernur, atau Anggota DPR yang top, atau direktur yang top, atau jabatan yang top,.. Turunkan saja tingkat harapannya,, daripada kecewa.. 
Saat ini harapan saya tinggal satu; selamat dunia akhirat..

4. Mengeluh
Yang mengeluh itu cuma sapi.. Asal katanya "eluh".. Berasal dari kata "eluhan" sapi.. Sapi mengeluh mengeluarkan suara "moooooo.."


Sapi mengeluh karena hidupnya tidak jelas. Kemana-mana hanya cari makan dan menunggu tarikan pengembala. Kalau masih kuat bisa untuk membajak sawah. Yang bisa mengeluarkan susu untuk diperah bagi kepentingan manusia. Besar dikit siap dipotong.. Masa depannya sapi hanya itu..Kita ini bukan sapi, jadi pantang mengeluh. Masalah untuk dianalisa dan diselesaikan. Mengeluhkan masalah tidak akan menyelesaikan masalah.. Jadi bos mengeluh kurang ini dan itu, maka akan bertambah masalahnya.. Lebih baik kita analisa apa masalah yang ada, kita cari solusi yang tepat, kita jalankan cara yang kita pilih.. Insya Allah semua ada jalannya..Lagipula; kalau kita jadi pimpinan pasti tidak suka kepada anggota yang kerjanya hanya mengeluh..

Terima kasih sudah membaca rangkaian tulisan tanpa arah ini..

Salam Hormat 

31 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Tulisannya bagus sekali mas, memberikan sedikit pencerahan di tengah keringnya kalbu ini...

    ReplyDelete
  3. Keren artikel bermanfaat ndann..

    ReplyDelete
  4. Suka bacanya,, smoga bisa ngejalaninya

    ReplyDelete
  5. tambah sejuk....

    ReplyDelete
  6. Keren..gmn caranya saya bisa seperti Bapak ya?

    ReplyDelete
  7. So inspiring, kalimat2 yg Bapak sampaikam simple, jadi mudah dipahami.

    ReplyDelete
  8. Hebat Kombes Krishn Murti mesti masih muda dan ber prospek cerah calon bintang dipundak mudah2an bintang 4, punya wawasan yg baik sekali dalam memandang hidup, jadi bawahan baik, jadi atasan baik, angkat topi dan semoga tambah sukses Kombes KM

    ReplyDelete
  9. matur suwun nasehatipun Pak...

    ReplyDelete
  10. tangkap itu pak, ngirim link judi bola mulu:-)

    ReplyDelete
  11. Kami doakan smoga komandan menjadi Kapolri...aamiin..

    ReplyDelete
  12. keren Pak...sangat menginspirasi....btw Bpk sibuk sih yah akhir2 ini jadi jarang ada waktu nulis di sini lagi

    ReplyDelete